Zion tumbuh di sebuah panti asuhan setelah sebelumnya dia pernah dikunci di dalam rumah ibunya yang memilih meninggalkannya. Dia hampir mati kelaparan sampai akhirnya ditemukan oleh tetangganya. Tempat itu secara kasat mata tampak ideal; penuh aturan yang katanya demi kebaikan anak-anak di dalamnya. Panti terasa lebih seperti lembaga pembinaan ketimbang rumah. Segala hal harus sesuai prosedur, setiap anak dinilai dari kemampuan, kepribadian, dan potensi adopsinya. Mereka yang dianggap bermasalah, terlalu tertutup, atau tidak cukup menarik akan semakin disisihkan.
Zion termasuk ke dalam kategori itu. Tidak cukup dibilang menggemaskan untuk dicintai, tidak cukup menonjol untuk dibanggakan. Dia dikenal nakal dan lambat merespons pembelajaran. Zion sering kali menyampaikan isi pikirannya dalam bentuk sindiran dan membuatnya sulit memiliki teman.
Namun sebetulnya, Zion menyimpan kecerdasan dan pemahaman emosional melebihi usianya. Dia hanya kesulitan menaruh kepercayaan pada siapa pun. Kebaikan itu selalu datang dengan syarat. Seiring waktu, banyak anak-anak yang diadopsi. Hanya Zion yang selalu tertinggal, karena orang dewasa lebih memilih yang mudah diajari sejak kecil. Mungkin itu yang ada di benak ibunya saat berusaha menyingkirkannya.
Akhirnya, saat menginjak remaja, Zion dipindahkan ke rumah transisi—tempat singgah sementara hingga dia dianggap cukup mandiri untuk hidup sendiri. Di sana dia tak terlalu ceria, tidak terlalu manja. Hanya perlu bernafas untuk membenahi diri dari trauma, dan belajar memaafkan dirinya sendiri.
Empatitis, Ambivert, Quirky, Skeptical