Lahir dari orang tua yang bekerja sebagai peneliti, keduanya dikenal di benua Vanora sebagai pasangan jenius yang menerbitkan beberapa buku pengetahuan. Buku-buku yang mereka terbitkan kebanyakan membahas tentang makhluk hidup yang ada di dunia Eunoia, seperti spesies ikan, tumbuhan, binatang, dan banyak lainnya. Keduanya saling mencintai setelah cinta pada pandangan pertama. Mereka pun menikah, hidup tenteram dan damai di sebuah rumah kayu mungil yang terletak di salah satu pemukiman kecil di wilayah Gahanorha. Mereka yang sangat mencintai pekerjaannya untuk terus mencari ilmu tak terhenti sedikit pun bahkan setelah memiliki anak. Anak pertama dan satu-satunya yang diberi nama Farah Al-Fajr.
Farah tumbuh dan berkembang menjadi anak yang cukup cerdas, baik dan penyayang. Kasih sayangnya tumbuh setelah kedua orang tuanya mengenalkan berbagai macam binatang sejak dini. Hingga menginjak remaja, Farah pun menjadi gadis yang penuh rasa ingin tahu dan tertarik akan pengetahuan seperti kedua orang tuanya.
Masa-masa indah itu berakhir setelah utusan dari Duke Ali Mostafa yang mengantarkan surat untuk Kgosi dan Ibraheim. Dalam surat itu tertulis sebuah permintaan untuk mengutus keduanya melakukan suatu riset yang mempelajari sebuah fenomena tentang anomali. Sebenarnya orang tua Farah tidak ingin kembali menerima tugas apa pun dari Duke tersebut, bahkan mereka rela tinggal di pelosok Gahanorha dan memutus ikatan dengan Duke Ali Mostafa. Namun kereta dan beberapa pengawal telah bersiap di depan halaman rumah mereka, mereka dipersenjatai pedang tajam yang siap untuk memengg*l kepala keduanya jika mereka menolak surat itu.
Farah yang berumur 15 tahun itu pun dititipkan pada bibinya dan kedua orang tuanya pun berangkat menuju ibukota Gahanorha, tempat Duke Ali Mostafa tinggal.
5 tahun berlalu, Farah kini telah menginjak umur 20 tahun dan kedua orang tuanya masih belum kembali.
Selama hidupnya, ia menghabiskan waktu untuk membaca buku yang dicetak orang tuanya. Dari berbagai macam buku, Farah lebih tertarik dengan series “The Green World”, buku dari ibunya yang bertuliskan berbagai macam flora di dalamnya. Tumbuhan yang tergambarkan berbentuk sangat aneh, ada yang berbentuk seperti kantong, mulut buaya, bergigi tajam, layaknya monster. Padahal tumbuhan yang biasa Farah lihat sehari-hari tak terlihat seaneh dan misterius itu.
Dari buku itulah Farah ingin mempelajari lebih lanjut tentang flora, sayangnya di umurnya yang masih belum dewasa itu ia masih tidak diperbolehkan untuk meninggalkan rumah. Farah pun berinisiatif untuk mempelajari tentang flora yang biasa ada dalam kehidupan sehari-hari.
Penelitian yang dilakukannya menghasilkan sebuah buku berjudul “Small Things, Big Deals”. Sebuah buku yang berisikan berbagai macam tanaman yang biasa digunakan masyarakat umum namun memiliki khasiat luar biasa untuk kesehatan. Contohnya seperti tumbuhan rerimpangan yang biasa digunakan untuk memasak ternyata memiliki khasiat untuk menyembuhkan penyakit ringan seperti demam, batuk, dan flu. Untuk menyebar luaskan bukunya, Farah memiliki ide untuk menambahkan hadiah gratis bagi siapa pun yang membeli bukunya. Hadiah tersebut berupa sabun kecantikan, sabun dari tanaman lidah buaya yang sangat berkhasiat untuk melembutkan dan mencerahkan kulit wanita. Alhasil bukunya terjual laris dan sangat laku, bahkan keluarga bangsawan juga tertarik pada sabun yang diciptakan Farah. Para wanita kelas bangsawan tidak perlu menggunakan bahan berbahaya kelas merkuri ataupun melakukan operasi kulit yang mengancam nyawa, cukup dengan mandi teratur dengan sabun lidah buaya telah mempercantik kulit mereka.
Di suatu hari, utusan dari ibukota datang berkunjung dengan kereta dan pengawal yang telah bersiap di depan rumah Farah. Dari dalam kereta tersebut keluar sosok pria berwibawa berkulit coklat mengkilap dan berpakaian mewah. Salah satu prajurit berteriak menyebutkan nama, sang penguasa Duke Ali Mostafa telah datang.
Singkat cerita, di dalam rumah kayu yang mulai termakan umur itu perbincangan antara Farah dan Duke Ali berlangsung. Sang Duke menceritakan kejadian tentang Kgosi, ibu Farah yang meninggal karena suatu insiden kecelakaan dalam riset penelitiannya.
Farah yang mendengar hal tersebut terkejut dan tak percaya. Kedua peneliti jenius yang selalu dihormatinya itu kini menjadi sosok yang dicela masyarakat.
Ekspresi Duke yang selalu datar selama pembicaraan tiba-tiba berubah menjadi wajah yang merasa iba. Mulutnya terbuka dan melontarkan kalimat yang ingin didengar oleh Farah. Tiap kata yang diucapkannya membuat Farah yang menangis menjadi kembali tenang.
Dalam akhir obrolan tersebut Duke menyampaikan sebuah kesepakatan untuk Farah, meneruskan kedua orang tuanya menjadi seorang peneliti untuk membersihkan nama keluarganya yang tercela dan melanjutkan riset yang pernah diberikan pada 5 tahun silam.
Farah menyetujui kesepakatan itu, dalam perjalanannya menjadi seorang peneliti, ia masuk ke sekolah Vincent dengan nama baru yang diberikan Duke Ali menjadi Url Jahzahra untuk menutup latar belakang keluarganya yang lama. Kebetulan “Url” juga dipakai oleh Farah sebagai nama pena dalam membuat buku pertamanya.
Selalu mengenakan kacamata dan sepasang sarung tangan, rambutnya berwarna coklat panjang terurai.
(+) Baik hati
(+) Penuh rasa ingin tahu
(+) Cukup cerdas
(–) Cukup bodoh
(–) Ceroboh
(–) Clean freak